PEMBAHASAN DAN RUANG LINGKUP
IAD, IBD, ISD
Penyusun :
SITI RUKAYANTI (B04219035)
VICA AFIFATUL M. (B04219036)
Kelas : MD-D2
Pembimbing :
BAITI RAHMAWATI, M.Sos
PRODI MANAJEMEN DAKWAH
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UIN SUNAN AMPEL
SURABAYA
2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami haturkan kepada Allah SWT dengan ucapan Alhamdulillahi robbil ‘alamiin dzat yang telah memberikan nikmat yang tak ternilai yaitu berupa nikmat iman dan Islam, dan juga nikmat sehat jasmani dan rohani sehingga semua cita-cita dan harapan kita semua bisa tercapai.
Makalah ini membahas tentang Pengertian dan Ruang Lingkup IAD/IBD/ISD yang akan dibahas dengan mengambil kutipan di 30 referensi.
Terima kasih kami ucapkan kepada dosen pembimbing dan teman saya Vica Afiffatul Mabruri yang telah membantu dan mendukung kita untuk bisa menyelesaikan makalah ini dengan baik dan terselesaiakan pada waktu yang sudah ditentukan.
Makalah ini kami buat dalam rangka untuk pembelajaran mata kuliah Ilmu Alamiah Dasar, Ilmu Sosial Dasar, dan Ilmu Budaya Dasar. Dengan harapan agar masalah yang ada bisa terselesaikan dengan baik dan juga bisa menambah pengetahuan bagi kita semua.
Makalah ini, tentunya masih banyak kesalahan karena penulis juga masih dalam tahap pembelajaran. Oleh karena itu kami mengharap ada arahan, koreksi dan saran. Semoga makalah ini dapat menambah wawasan bagi kita semua.
Surabaya, Maret 2020
Penyusun
DAFTAR ISI
BAB I
PENGERTIAN IAD DAN RUANG LINGKUP
Pengertian
Ilmu Alamiah Dasar adalah ilmu yang berhubungan dengan sains dan juga mempelajari tentang sebuah fenomena alam semesta. Selain itu, ilmu sains juga bermanfaat untuk indifidu dan bermanfaat juga untuk masyarakat umum. Menurut Rutherford dan Ahlgren untuk mempelajari ilmu sains itu perlu digunakan oleh setiap individu manusia. Karena selain untuk memahami ilmu sains, belajar sains itu dapat mengembangkan kepribadian, kecerdasan berfikir, serta untuk menumbuhkan sikap alamiah dan juga etika berkehidupan.
Proses dalam menemukan dan mempelajari sains dapat mengembangkan pola fikir mausia. Lebih lanjutnya, bahwa melalui belajar sains manusia akan menyadari bahwa keteraturan di alam, adanya keterbatasan untuk memahami bahwa penemuan sains itu harus disertai dengan etika dan estetika.
Untuk menanggulangi kejahatan ilmiah kita bisa belajar dengan memahami etika ilmiah. Ilmu ilmiah ini harus disebar luaskan ke masyarakat agar mereka bisa menghindari penyalahgunaan atau kejahatan dari penerapan ilmu pemgetahuan tersebut.
Arti penting dari pendapat Rutherford dan Ahlgren itu tidak salah. Karena mempelajari ilmu sains itu sebuah keharusan bagi semua orang Amerika.
Diseluruh universitas Ilmu Alamiah Dasar adalah ilmu yang wajib diberikan kepada mahasiswa diseluruh perguruan tinggi sebagai bagian inti dari progam studi tersebut.
Sebagian besar mata kuliah IAD dilaksanakan sebagai mata kuliah umum dan diselenggarakan pada semester rendah. Dibeberapa perguruan tinggi banyak yang menghubungkan mata kuliah IAD dengan mata kuliah lain seperti IBD (Ilmu Budaya Dasar) dan ISD (Ilmu Sosial Dasar).
Ruang Lingkup Pembelajaran
Di dalam Ilmu Alamia Dasar ini mengkaji gejala-gejala alam semesta termasuk bumi, secara dasar dan akhirnya terbentuklah proses dan prinsip. Ruang lingkup dari Ilmu Alamia Dasar ini mempunyai pembelajaran tersendiri meliputi: Kelahiran alam semesta dengan berbagai teori, keadaan tatasurya, bumi, asalmula kehidupan yang ada dibumi, energy dan materi, dan perkembangan semua mahluk hidup.
Ilmu Alamiah Dasar juga mempunyai beberapa jenis, yaitu:
1. Ilmu Pengetahuan Alam : ilmu yang membahas tentang alam semesta beserta isinya dan selanjutnya terbagi atas beberapa ilmu :
a. Fisika, ilmu ini mempelajari tentang benda mati dari sebuah aspek wujud yang memiliki perubahan sifat yang sementara. Contohnya: bunyi cahaya, gelombang maghnet, tehnik kelistrikan, dan teknik nuklir.
b. Kimia, ilmu ini mempelajari tentang benda hidup dan tak hidup dari susunan aspek materi dan perubahan yang bersifat tetap. Kimia secara garis besar dibagi menjadi dua, yaitu kimia organik dan juga anorganik. Kimia organic itu seperti protein dan juga lemak. Sedangkan yang anorganik itu seperti plastic, dan juga bahan peledak.
c. Biologi, ilmu yang mempelajari tentang mahluk hidup dan juga gejala-gejalanya, seperti:
1.) Botani, ilmu yang mempelajari tenteng tumbuh-tumbuhan
2.) Zoologiilmu, ilmu yang mempelajari tentang hewan
3.) Morfologiilmu, ilmu yang mempelajari tentang struktur luar mahluk hidup
4.) Fisiologi, ilmu yang mempelajari tentang organ tubuh mahluk hidup
5.) Sitologiilmu, ilmu yang mempelajari tentang sel mahluk hidup secara mendalam
6.) Histologi, ilmu yang mempelajari tentang jaringan atau organ tubuh manusia yang merupakan sel sejenis
7.) Palaentologi, ilmu yang mempelajari tentang mahluk hidup di masa lalu
2. Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa, ilmu yang membahas tentang bumi sebagai anggota tata surya, dan benda lain yang ada diangkasa.
1.) Geologi, ilmu yang membahas tentang struktur bumi.
2.) Astronomi, ilmu yang membahas tentang benda-benda yang ada di luar angkasa seperti, bintang, bulan, planet dan juga satelit-satelit lainnya.
C. Tujuan IAD
Mata kuliah IAD memiliki tujuan untuk menjadikan mahasiswa:
Menjadi ilmuan dan profesional yang berfikir kritis, kreatif, sistematik dan ilmiah
Berwawasan luas, etis, estetis, memiliki apresiasi kepekaan dan empati sosial, bersikap demokratis, berkeadaban dan menjunjung tinggi nilai
Memiliki kepedulian terhadap pelestarian sumber daya alam dan juga lingkungan hidup
Mempunyai wawasan tenteng perkembangan ilmu pengetahuan dan ilmu teknologi
Ikut berperan dalam mencari solusi untuk memecahkan masalah lingkungan hidup secara arif
Dalam kurun waktu10 tahun terakhir ini sering sekalikita mendengar istilah IAD (Ilmu Alamiah Dasar). Dalam ilmu ini ingin membuka pagar-pagar yang membatasi disiplin-disiplin yang membentuk masing-masing kelompok ilmu.
Biasanya disiplin-disiplin yang tergolong IAD adalah: fisika, kimia, astronomi, geologi, meteorologi, serta biologi. Lima yang terdahulu yang mewujudkan ilmu-ilmu fisis, sedanh yang terakhir ilmu-ilmu biotis (dengan perincian utama : zologi, fitoligi, dan fisiologi manusia).
D. Hakekat Manusia dan Sifat Keingintahuannya
1. Hakikat Manusia
Di dalam filsafat kontemporer secara hakiki terpusat kita tidak bisa memahami apa dan esensi diri yang sebenarnya. Al-Qur’an membuka pitu dunia baru, tentang kesadaran diri secara berurutan sampai kepada kesadaran yang universal. Ungkapan ini tidak terikat oleh suatu aliran tetentu. Saat dimana munculketika dihadapkan persoalan manusia terdorong untuk memikirkan eksistensi. Dimana keberadaannya bagaikan terlempat begitu saja.
Hakikat manusia adalah makhluk yang kuat, ada juga yang menyebut manusia adalah makhluk yang sempurna, ada juga yang menyebutkan makhluk paling cerdas dari semua itu menunjukkan bahwa hakikat manusia adalah makhluk yang positif. Manusia dengan segala sifat dan karakternya, diciptakan dengan sebegitu sempurna. Hakikat manusia adalah sebagai berikut:
Mahluk yang memiliki tenaga dalam yang dapat menggerakkan hidupnya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.
Individu yang memiliki sifat rasional yang bertanggung jawab atas tingkah laku intelektual dan sosial.
Mampu mengarahkan dirinya ke tujuan yang positif mampu mengatur dan mengotrol dirinya dan mampume menentukan nasibnya.
Hakikat Manusia Sebagai Makhluk yang Kuat
Hakikat manusia sebagai makhluk yang kuat tentu karena manusia diciptakan dengan diberi akal. Dengan akalnya manusia bisa mengalahkan terbangnya burung yang terbang ke angkasa, dengan akalnya manusia bisa berenang di dasaran laut sperti ikan. Disbanding makhluk lainnya manusia mempunyai kelebihan-kelebihan yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya.
Hakikat Manusia Sebagai Makhluk yang Bertanggung Jawab
Sesungguhnya hakikat manusia adalah makhluk yang bertanggung jawab atas tindakannya dan manusia diberi naluri. Naluri adalah semacam dorongan alamiah dari dalam diri manusia untuk memikirkan serta menyatakan sesuatu tindakan. Setiap makhluk hidup memiliki dorongan yang dapat diekspresikan secara sepontan sebagai tanggapannya kepada stimulus yang muncul dari dalam diri atau luar dirinya.
2. Sifat Keingintahuan Manusia
Rasa ingin tahu (kuriositas), juga merupakan salah satu ciri khas manusia. Ia mempunyai kemampuan untuk berfikir sehingga rasa ingin tahu tidak tetap sepanjang zaman. Karena apa? Karena manusia akan selalu bertanya apa, bagaimana, dan mengapa begitu. Manusia juga mampu menggunakan pengetahuannya yang terdahulu untuk dikombinasikan dengan pengetahuan yang baru sehingga pengetahuannya yang lebih baru.
Manusia dengan rasa ingin tahunya yang besar, selalu berusaha mencari keterangan tentang fenomena alam yang teramati. Untuk menjawab semua rasa ingin tahu manusia sering mereka-reka jawaban mereka sendiri. Pengetahuan inilah yang disebut pseudo science. Ilmu pengetahuan juga berkembang sesuai dengan zamannya dan sjalan dengan cara berfikirnya dan alat bantu yang ada pada saat itu.
Cara memperoleh sains semu (pseudo sains), antara lain :
Mitos
Wahyu
Otoritas dan tradisi
Prasangka
Intuisi
Penemuan kebetulan
Cara-coba-ralat
Pada saman Yunani (600-200 SM) terjadi pola pikir yang lebih maju dari pola piker mitos, dimana terjadi penggabungan antara pengamatan, pengalaman dan akal sehat, logika atau rasional. Aliran ini disebut rasionalisme. Lebih lanjut lagi dikenal dengan metode deduksi yaitu penarikan suatu kesimpulan didasarkan pada sesuatu yang bersifat umum (Premis mayor) menuju ynag ke khusus (Premis minor). Dasar metode ilmiah sekarang adalah metode induksi, yang artinya adalah bahwa pengambilan keputusan dan kesimpulan dilakukan didasarkan data pengamatan atau eksperimen.
BAB II
PENGERTIAN IBD DAN RUANG LINGKUP
Pengertian
Ilmu Budaya Dasar adalah suatu pengetahuan yang memahami berbagai macam masalah kemanusiaan dan budaya, dengan arti lain ilmu tersebut telah dikembangkan dari berbagai bidang keahlian yang sudah tergolong dalam pengetahuan budaya.
Ilmu Budaya Dasar mempunyai tujuan, adapun tujuannya adalah:
Mengusahakan kepekaan mahasiswa terhadap suatu budaya agar mereka bisa beradaptasi dengan lingkungan yang baru.
Memberi kesempatan bagi mahasiswa untuk dapat memperluas pandangan mereka tentang masalah kemanusiaan dan budaya. Serta mengembangkan daya kritis mereka terhadap persoalan-persoalan yang menyangkut dua hal tersebut
Sebagai calon pemimpin bangsa dan Negara, serta ahli dalam bidang disiplin masing-masing dikehendaki agar mereka jangan jatuh ke dalam sifat-sifat kedaerahan dan kekotaan disiplin yang ketat.
Ruang Lingkup Kajian
Dalam tujuan di atas ada dua masalah yang bisa dipakai sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan ruang lingkup kajian mata kuliah Ilmu Budaya Dasar. Adapun masalah tersebut adalah:
Berbagai aspek kehidupan yang seluruhnya merupakan ungkapan masalah kemanusiaan dan budaya yang dapat didekati dengan menggunakan pengetahuan budaya (The Humanities), baik dari segi keahlian (disiplin) di dalam keahlian budaya, maupun secara gabungan (antara bidang) berbagai disiplin dalam pengetahuan budaya.
Hakikat yang satu atau universal, akan tetapi yang beraneka ragam perwujudannya dalam kebudayaannya masing-masing zaman dan tempat. Dalam menghadapi lingkungan alam, sosial dan budaya. Manusia tidak hanya mewujudkan suatu kesamaan-kesamaan, akan tetapi tidak keseragaman yang diungkapkan secara tidak seragam.
Dalam mata kuliah Ilmu Budaya Dasar di atas, Nampak sangat jelas bahwa manusia menempati posisi sentral dalam pengkajian. Manusia tidak saja berperan sebagai subyek akan tetapi juga sebagai obyek pengkajian. Adapun hubungan manusia dengan alam, sesama manusia, dirinya sendiri, nulai-nilai manusia dan bagaimana hubungan manusia dengan Tuhan menjadi tema sentral dalam Ilmu Budaya Dasar.
Pengetahuan Budaya (The Humanities) dibatasi sebagai pengetahuan yang mencakup keahlian seni dan filsafat. Di dalam keahlian ini seni pun dapat dibagi menjadi beberapa macam keahlian, seperti seni tari, seni sastra, seni musik, seni rupa, dan lain-lain.
Sedang Ilmu Budaya Dasar (Basic Humanities) sebagaimana dikemukakan adalah usaha yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar tentang konsep-konsep dasar untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan.
Masalah-masalah ini dapat didekati dengan menggunakan pengetahuan budaya, baik secara gabungan (antar bidang) maupun menggunakan masing-masing kaedah. Ilmu Budaya Dasar menggunakan pengertian-pengertian yang berasal dari berbagai bidang pengetahuan budaya untuk mengembangkan pengetahuan dalam mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan.
Tim IBD dari Konsorsium sedah berusaha mengadakan pembagian masalah-masalah tersebutsecara fleksibel. Contohnya pada tahun 1972, masalah-masalah tersebut dibagi menjadi 10 tema atau 10 topik:
Manusia dan pandangan hidup
Manusia dan asuhan
Manusia dan tanggung jawab
Manusia dan cinta kasih
Manusia dan kegelisahan
Manusia dan derita
Manusia dan harapan
Manusia dan ketulusan
Manusia dan pengabdian
Manusia dan keadilan
Pada tahun 1973,tim IBD membagi masalah-masalah menjadi 15 topik, tang semua itu disusun sesuai dengan “lingkungan hidup manusia”. Antara lain:
Kelahiran
Kebahagiaan dan humor
Cinta kasih dan keterbukaan
Kedirian cinta dan perkelaminan
Pengeluaran, pemanfaatan, danpenaklukan alam
Keindahan dan khayalan
Kekuatan dan kehormatan
Kemudian pada tahun 1978, tim IBD menyusun kembalimasalah-masalah tersebut menjadi 7 topik yaitu:
Keadilan
Tanggung jawab
Cinta kasih
Pengabdian
Harapan
Kegeisahan
Penderitaan
Pada tahun 1980 tim IBD merumuskan kembalimenjadi8 topik yaitu:
Pandangan hidup
keindahan
Cinta kasih
Tanggung jawab dan pengabdian
Keadilan
Kegelisahan
Penderitaan
Harapan
Akhirnya pada tahun 1982 konsorsium menurunkan rumusan terbaru sebagai berikut:
Mata kuliah Ilmu Budaya Dasar adalah usaha yang diharapkan dapat memberikan pengertian umum dan pengetahuan dasar tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah budaya.
Kedua masalah pokok di atas, sudah barang tentu masih memerlukan penjabaran lebih lanjut untuk bisa dioperasionalkan. Rumusan masalah-masalah yang akan dikaji dalam Ilmu Budaya Dasar diformulasikan ke dalam satu tema, yaitu manusia sebagai mahluk budaya. Tema ini akan dikembangkan lebih lanjut ke dalam delapan pokok bahasan dan sub pokok bahasan, yaitu:
Manusia dan cinta kasih :
Cinta antarapria dan wanita
Kekeluargaan
Persaudaraan
Manusia dan keindahan :
Kontemplasi
Ekstasi
Manusia dan penderitaan :
Nasib buruk
Penyesalan
Kehilangan yang dicintai
Manusia dan keadilan :
Rasa keadilan
Perilaku yang adil
Manusia dan pandangan hidup :
Cita-cita
Kebajikan
Manusia dan tanggung jawab serta pengabdian :
Kesadaran
Kewajiban
Pengorbanan
Manusia dankegelisahan :
Keterasingan
Kesepian
Ketidakpastian
Manusia danharapan :
Kepercayaan diri
Gairah mengatasi kesulitan
Dari pengembangan masalah-masalah tersebut di atas, nampaksekali bahwa orientasi dalam Ilmu Budaya Dasar memang tidak terlepas dari masalah-masalah manusia dan kebudayaannya.
Kedelapan pokok bahasan (beserta sub pokok bahasan) tersebut di atas pada dasarnya termasuk dalam karya-karya yang tercakup dalampengetahuan budaya (the humanities).
Untuk mendekati masalah-masalah yang dikaji dengan Ilmu Budaya Dasar, bisa dengan menggunakan cabang-cabang budaya, baik secara sendiri-sendiri maupun dengan cara gabungan dari berbagai bidang. Perwujudan mengenai cinta kasih, misalnya terdapat dalamkarya-karya sastra, tarian, musik, filsafat, lukisan, patung dan lain sebagainya yang semuanya itu merupakan benda-benda budaya.
Dengan penyusunan tema-tema seperti itu, dimaksudkan agar mahasiswa lebih mudah untuk mengidentifikasikan dengan masalah-masalah yang dibahas dan untuk menunjukkan bahwa hal-hal itu sesuai dengan pengalaman hidup manusia.
Selain itu, agar mahasiswa juga dapat memperhatikan norma-norma yang membantu pendidikan. Walaupun penyusunan semacam itu diharapkan untukmendekatkan dengan penngalaman mahasiswa.
Ilmu Budaya Dasar sebagai Komponen Mata Kuliah Dasar Umum
Kita telah mengetahui bahwa Pembangunan Nasional bertujuan untuk mewujudkan suatu masyarakat adil dan makmur yang merata, material dan spiritual berdasarkan Pancasila. Bahwa hakikat pembangunan Nasional adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia. Untuk mencapai tujuan tersebut, sudah tentu pendekatan dan strategi pembangunan hendaknya menempatkan manusia sebagai pusan interaksi kegiatan pembangunan spiritual maupun material. Dalam melihat manusia sebagai mahluk budaya, dan sebagai sumber daya dalam pembangunan hal ini berarti bahwa pembangunan seharusnya mampu meningkatkan harkat dan martabat seorang manusia. mampu menumbuhkan kepercayaan diri sebagai bangsa, menumbuhkan sikap hidup yang seimbang, serasi, memiliki kepribadian yang utuh, memiliki moral dan intregitas sosial yang tinggi, menjadi manusia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Tujuan dari mempelajari hal di atas adalah untuk membentuk manusia yang:
Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, bersikap dan bertindak sesuai dengan agamanya dan memiliki tenggang rasa terhadappemeluk agama lain
Berjiwa Pancasila, sehingga segala keputusan dan tindakannya mencerminkan pengamalan nilai-nilai Pancasila dan memiliki intregitas kepribadian yang tinggi, yang mendahulukan kepentingan nasional dan kemanusiaan sebagai sarjana Indonesia
Memiliki wawasan kehidupan yang luas terhadap kehidupan bermasyarakat dan secara bersama-sama mampu berperan meningkatkan kualitasnya maupun lingkuangan alamiah dan secara bersama-sama berperan serta di dalam pelestariannya
Memiliki wawasan komprehensif dan pendekatan intregal di dalam menyikapi permasalahan baik sosial, ekonomi, politik, kebudayaan, maupun pertahanan keamanan.
Dalam kurun waktu10 tahun terakhir ini sering sekalikita mendengar istilah IAD (Ilmu Alamiah Dasar). Dalam ilmu ini ingin membuka pagar-pagar yang membatasi disiplin-disiplin yang membentuk masing-masing kelompok ilmu.
IBD biasanya dibagi menjadi tiga kelompok. Pertama seni: (sastra, musik, seni rupa, seni tari dan berpidato). Sejarah, agama dan filsafat. Penjelasan lanjut yang mengenai beberapa disiplin yang masuk IBD adalah sebagai berikut:
Sejak manusia hidup dalam kondisi sederhana, seni menempati posisi yang penting dalam kehidupan sehari-hari. Sejarah umat manusia juga menunjukkan bahwa di dalam seni itu terdapat beberapa dari kebanyakan ekspresi manusia yang menonjol dalam pengertiannya atas eksitensisnya sendiri. Sastra yang diajarkan di sekolah perguruan tinggi berpendekatan kritik leterer, di dalamnya tercakup hakikat sastra, analisisnya, evaluasinya dan tempatnya di dalam hidup manusia. Adapun seni rupa dan musik setiapkali masih sekedar diajarkan untukketerampilan seni belaka, jadi berjumlah sebagai pemberi bekal pemerkaya pemilikan budaya intelek bersama.
Hubungan IBD dengan Ilmu-ilmu Eskak
Hubungan IBD dengan Ilmu Teknik
Sesuai dengan pengertian dan sasaran budaya, maka tidak mengherankan jika pengetahuan budaya dasar itu berkaitan sekali dengan ilmu-ilmu teknik, justru teknologi itu adalah hasil dari budaya manusia. Karena itu tidak mengherankan, jika karya budaya itu menuntut kekuatan, keindahan, kepraktisan dan sebagainya.
Hal itu dapat kita perhatikan pada hasil yang berbentuk bangunan-bangunan, seperti bangunan rumah, bangunan jembatan, motor, robot dan lain sebagainya.
Hubungan manusia dengan rumah
Jika kita perhatikan bangunan rumah, di Solo misalnya. Secara sosiontropologis kita dapat membuat persepsi terhadap hasil bangunan itu, bahwa masyaraka Solo yang sederhanapun sudah dapat membangun sebuah rumah untuk mencapai tujuan baik dengan keluarga kecilmaupun keluarga besar.
Secara antropologis mereka sudah tahu, bahwa mereka berasal dari Tuhan Yang Maha Esa. Untukitu mereka membuat tempat yang khusus untuk menghormatinya.
Memperhatikan dari konstruksinya, mereka sudah menggunakan ilmu pasti yang memadai. Selanjutnya, jika mereka berkembang, mereka sadar dan membuat tempat-tempat sesuai dengan kebutuhannya.
Ditinjau dari rasa estetik yang dimilikinya, mereka juga mampu berkreasi untuk menciptakan keindahan dan mereka mengubah atap rumahnya dari dahan-dahan atau ijuk menjadi genting, bahkan yang dipergunakannyapun juga berubah-ubah, dari yang tipis sederhana menjadi genting yang tebal atau juga genting kaca. Lain dari itu ada pula yang mengubah dariijuk atau dahan-dahanan menjadi kayu yang disebut sirap.
Di samping itu orang juga ada yang berusaha mau membentuk rumahnyadengan perhiasan-perhiasan yang khas sesuai dengan daerahnya. Keindahan itu terwujud ukiran-ukiran yang sesuai dengan tipe ukiran yang terdapat pada daerah masing-masing seperti: ukiran Jepara, ukiran Serenan Di Solo, dan seterusnya.
Hubungan manusia dengan bangunan jembatan
Sesuai dengan kebutuhan alam dan tradisi yang dipatuhi. Maka, manusia menghasilkan karya budayanya yang berwujud jembatan. Masalah ini sangat dirasakan masyarakat persekutuan manusia yang setujuan untuk menciptakan alat perhubungan antara persekutuan yang satu dengan pesekutuan yang lain, akibat-akibat adanya pemisah, misalnya:sungi, atau alamyang lain. Alat itu kita sebut dengan jembatan atau titian. Jembatan yang sederhana berujud sepotong, dua potong bamboo atau kayu. Dengan kesederhanaannya mereka sudah dapat memenuhi keperluannya. Dengan kreasi penalaran manusia yang maju, mereka mampu menciptakan jembatan yang besar dan kuat. Dengan jembatan yang besar itu, hubungan lebih memenuhi apa yang diperlukan masyarakat, bahkan dengan muatan yang besar dan beratpun, jembatan itu dapat dipertanggungjawabkan. Gerobak, kereta, mobil dan truk dapat melalui dengan enak dan tidak ragu-ragu.
Masalah jembatan ini pada masa modern akan dibentuk dengan peralatan yang serba baru dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Para pembuat jembatan mempergunakan perhitungan ilmu pasti yang rumit untuk menghindarkan bahaya yang melanda. Untuk menghindarkan bahaya banjir mereka membuatnya tanpa menggunakan tiang (pijler), karena itu timbullah jembatan gantung. Kekuatan jembatan gantung itu terpancang pada pengikat-pengikat yang kuat berdasarkan perhitungan ilmu gaya yang teliti dan tepat.
Kalau kita perhatikan karya Ir. Sutami atas jembatan-jembatan sebelumnya misalnya: jembatan jurug, jembatan opak, jembatan madiun dan sebagainya. Sutami menciptakan jembatan raksasa dengan perhitungan biaya yang sedikit dan menghasilkan hasil yang kuat. Cara yang ditempuh ia tetap menggunakan tiang atau pilar yang hampir searah dengan arus air yang melaluinya dan pilar itu ditanamkan ke dasar air yang cukup dalam dengan segala perhitungan yang meyakinkannya.
BAB III
PENGERTIAN ISD DAN RUANG LINGKUP
Pengertian
Ilmu Sosial Dasar adalah gabungan dari disiplin ilmu sosial yang digunakan sebagai pendekatan dan pemecahan masalah yang bersifat sosial yang ada di lingkungan sekitar kita. Ilmu Sosial Dasar memberikan pengetahuan tentang konsep dasar untuk mengkaji gejala yang bersifat sosial.
Ilmu Sosial Dasar ini bersifat mendalam, karena ilmu ini menelaah masalah-masalah sosial yang timbul dan berkembang, khususnya yang diwujudkan oleh warga Indonesia dengan menggunakan fakta, konsep, teori yang berasal dari berbagai bidang pengetahuan keahlian dalam lapangan ilmu-ilmu sosial.
Ilmu Sosial Dasar ini sangat berbeda dengan Ilmu Pengetahuan Sosial. Ilmu Pengetahuan Sosial ini lebih cenderung tentang unsur-unsur atau nilai-nilai yang berbau sosial, nilai kehidupan kita dalam melakukan kegiatan, berfikir menjadi orang yang memiliki rasa nilai tenggang rasaan dengan sesama manusia.
Tegasnya Ilmu Sosial Dasar adalah usaha yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasardan umum tentang konsep untuk mengkaji gejala-gejala sosial agar daya tanggap, dan penalaran mahasiswa dalam menghadapi lingkungan sosialnya lebih meningkat sehingga kepekaan mahasiswa pada lingkungan lebih besar.
Sebagai salah satu mata kuliah umum, ilmu sosial dasar bertujuan membantu kepekaan wawasan pemikiran dan kepribadian mahasiswa agar memperoleh wawasan pemikiran yang lebih luas, dan ciri-ciri kepribadian yang di harapkan dari setiap anggota golongan terpelajar Indonesia, khususnya ilmu ini berkenaan dengan sikap dan tingkah laku manusia dalam menghadapi manusia-manusia lainnya, serta sikap dan tingkah laku manusia dalam menghadapi manusia lain terhadap manusia yang bersangkutan.
Ilmu pengetahuan dikelompokkan dalam 3 kelompok besar, yaitu sebagai berikut:
Ilmu-ilmu Alamiah (natural science). Ilmu-ilmu alamiah bertujuan mengetahui keteraturan-keteraturan yang terdapat di alam semesta. Untuk mengkaji hal ini membutuhkan sebuah metode ilmiah. Caranya ialah dengan menentukan hokum yang berlaku mengenai keteraturan itu, lalu buat analisis untuk menentukan suatu kualitas. Hasil analisis ini kemudian digeneralisasikan.
Ilmu-ilmu sosial (social science). Ilmu-ilmu sosial bertujuan untuk mengkaji keteraturan-keteraturan yang terdapat dalam hubungan antara manusia. Untuk mengkaji hal ini digunakan metode ilmiah sebagai pinjaman dari ilmu-ilmu alamiah. Namun, dalam perkembangannya tidak semuanya benar hanya mendekati kebenaran. Sebabnya ialah keteraturan dalam hubungan antara manusia ini dapat berubah dari waktu ke waktu.
Pengetahuan budaya (the humanities) bertujuan untuk memahami dan mencari arti kenyataan-kenyataan yang bersifat manusiawi. Untuk mengkaji hal ini digunakan metode pengungkapan peristiwa-perisiwa dan kenyataan-kenyataan yang besifat unik, kemudian diberi arti.
Dalam perkembangan selanjutnya,Ilmu Sosial Dasar (ISD) banyak berkonsentrasi pada urusan masalah sosial. Soerjono Soekanto mengatakan bahwa masalah sosial adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat yang membahayakan kehidupan kelompok sosial.
Dengan mempelajari Ilmu Sosial Ilmu (ISD) mahasiswa dapat menumbuhkan jiwa peduli terhadap sesame,meliki wawasan budaya yang luas serta menjadi salah satu sumber daya manusia yang dibutuhkan di masa yang akan mendatang.
TUJUAN MEMPELAJARI ILMU SOSIAL DASAR
Rancangan pembelajaran pada umumnya dan hasil yang akan diperoleh pada khususnya dari tamatan Perguruan Tinggi (PT), diharapkan tidak hanya menjadi orang yang pakar dalam bidang saja meskipun hal itu merupakan tugas utama Perguruan Tinggi. Bersamaan dengan itu, diharapkan pula bahwa berbagai macam kemampuan profesional tersebut membentuk kepribadian pada diri mahasiswa sebagai generasi muda penerus bangsa dan warga masyarakat yang baik. Agar sebagai warga masyarakat yang baik, maka kepribadian tersebut harus tumbuh ditumbuh-kembangkan pada mahasiswa selama menempuh proses pendidikannya. Hal ini sesuai dengan arahan Dirjen. Dikti. Sebagai berikut: “...pemilikan cakrawala yang luas disertai dengan wawasan matang-seimbang dalam menyikapi permasalahan-permasalahan kehidupan masyarakatnya...”.
Sebagai mata kuliah dasar umum, ilmu sosial dasar bertujuan membantu mengembangkan wawasan pemikiran dan kepribadian mahasiswa agar memperoleh wawasan pemikiran yang lebih luas dan ciri-ciri kepribadian yang di harapkan dari setiap anggota golongan terpelajar Indonesia, khususnya berkenaan dengan sikap dan tingkah laku manusia dalam menghadapi manusia-manusia lain serta sikap dan tingkah-laku manusia lain terhadap manusia yang bersangkutan.
Jadi secara rinci Ilmu Sosial Dasar bertujuan membina mahasiswa agar:
Memahami dan menyadari adanya kenyataan-kenyataan sosial dan masalah-masalah soaial yang ada dalam masyarakat.
Peka terhadap masalah-masalah sosial dan tanggap untuk menanggulanginya.
Menyadari bahwa setiap masalah sosial yang timbul dalam masyarakat selalu bersifat kompleks dan hanya mendekatinya (mempelajarinya) secara kritis dengan melalui pendekatan inter-disipliner.
Memahami jalan pikiran para ahli dari bidang ilmu pengetahuan lain dapat berkomunikasi dengan mereka dalam rangka penanggulangan masalah-masalah sosial yang timbul dalam masyarakat.
Dengan mempelajari diharapkan dapat mengembangkan kepekaan mahasiswa terhadap masalah-masalah sosial yang terjadi di lingkungannya, tumbuhnya sikap setia-kawan dan tanggungjawab sosial terhadap penderitaan sesama, melalui penguasaan pengetahuan dasar tentang aspek-aspek kehidupan sosial masyarakat beserta aspek-aspek kehidupan sosial masyarakat beserta permasalahan-permasalahan yang ada di dalamnya.
PENTINGNYA MEMPELAJARI ISD
Latar belakang pentingnya diberikan pembekalan perkuliahan ilmu dasar sosial (ISD), yaitu mulai adanya banyak kritikan yang di tujukan pada system pendidikan di perguruan tinggi oleh sejumlah cendekiawan terutama sarjana pendidikan sosial dan kebudayaan, mereka menganggap sistem pendidikan yang tengah berlangsung saat ini masih dianggap bersifat kolonial dan masih merupakan warisan sistem pendidikan pemerintah Belanda, yaitu kelanjutan dari politik balas-budi yang dianjurkan oleh Conrad Theodore van Deventer bertujuan untuk menghasilkan tenaga-tenaga terampil yang dipersiapkan menjadi tukang-tukang yang mengisi birokrasi mereka, dibidang administrasi, perdagangan, teknik dan keahlian lain dalam tujuan mengeksploitasi kekayaan negara.
Kenyataan tersebut masih tetap dirasakan sampai sekarang ini, dengan banyaknya lulusan lulusan dari perguruan tinggi yang dipersiapkan hanya sebagai tenaga ahli yang berpengetahuan secara khusus dan mendalam sehingga orientasi dan wawasan sosialnya menjadi sangat sempit. Padahal sumbangan pemikiran dan adanya komunikasi ilmiah antar disiplin ilmu diperlukan dalam memecahkan berbagai masalah-masalah sosial kemasyarakatan yang demikian kompleks. Sering suatu permasalahan sosial, dirasakan sudah tuntas dengan melalui pemdekatan disiplin ilmu tertentu, ternyata kalu dipandang dari sudut pandang disiplin ilmu yang lain, masih merupakan suatu masalah yang besar.
Hal yang lain, sistem pendidikan di perguruan tinggi kita, menjadi hal yang sangat elit bagi masyarakat kita sendiri, yang hanya menekan untuk mencetak keahlian keilmuan tertentu saja, sehingga terkesan kurang akrab dengan lingkungan masyarakatnya dan tidak mengenali dimensi-dimensi lain diluar disiplin keilmuannya. Perguruan tinggi seolah-olah menjadi merana gading yang banyak menghasilkan sarjana-sarjana “tukang”, sehingga para sarjana tersebut tidak atau kurang peka terhadap denyut kehidupan yang ada dalam masyarakatnya, sehingga apa kebutuhan serta bagaimana perkembangan kehidupan masyarakatnya itu kurang mendapatkan perhatian.
Sebagai upaya untuk mengatasi kegusaran atau keprihatinan para cendekiawan tersebut, maka perlu diberikannya mata kuliah ilmu sosial dasar sebagai pelengkap untuk menyempurnakan pembentukan karakter para calon sarjana yang paripurna sebagaimana yang diharapkan, oleh karena itu dalam proses belajar mengajarnya mempunyai ciri-ciri tersendiri, dengan lebih banyak mengaitkan problema-problema sosial oriented, yang dirasakan dan nyata di masyarakat.
Tenaga ahli yang dihasilkan oleh perguruan tinggi diharapkan memiliki tiga jenis kemampuan yaitu: Kemampuan akademis, kemampuan personal, dan kemampuan professional. Dengan pembentukan ketiga kemampuan ini merupakan keharusan bagi semua calon sarjana yang nantinya terjun dalam masyarakat. Penjabarannya sebagai berikut:
Kemampuan akademik adalah kemampuan untuk berkomunikasi secara ilmiah baik lisan maupun tulisan, menguasai peralatan tertentu, mampu berfikir logis, kritis, sistematis, dan analitis, mengidentifikasi dan merumuskan masalah-masalah yang dihadapi, serta mampu menawarkan alternatif pemecahannya.
Kemampuan personal adalah kemampuan kepribadian dengan kemampuan ini para tenaga ahli diharapkan memiliki pengetahuan sehingga menunjukkan sikap tingkah laku dan tindakan yang mencerminkan kepribadian bangsa Indonesia, memahami dan mengenal nilai-nilai keagamaan, kemasyarakatan dan kenegaraan serta memiliki pandangan yang luas dan kepekaan terhadap berbagai masalah yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia.
Kemampuan professional adalah kemampuan dalam bidang profesi tenaga ahli yang bersangkutan dengan kemampuan ini, para tenaga ahli diharapkan memiliki pengetahuan dan keterampilan yang tinggi dalam profesinya. Kemampuan professional ditanamkan kepada para mahasiswa sebagai calon tenaga ahli melalui program pendidikan umum atau lazim disebut mata kuliah dasar umum (MKDU).
ILMU SOSIAL DASAR SEBAGAI KOMPONEN MATA KULIAH DASAR UMUM (MKDU)
Menghadapi masalah-masalah sosial yang demikian kompleksnya, dan dalam rangka pelaksanaan penyelenggaraan tri dharma perguruan tinggi, demikian pula untuk memenuhi tuntutan masyarakat dan negara yang juga semakin kompleks, maka perlu di selenggarakan program-program pendidikan dasar umum.
Tujuan dari pendidikan dasar umum di perguruan tinggi adalah:
Sebagai usaha membantu perkembangan kepribadian mahasiswa agar mampu berperan sebagai anggota masyarakat dan bangsa yang baik.
Untuk menumbuhkan kepekaan mahasiswa terhadap masalah-masalah dan kenyataan sosial yang timbul dalam masyarakat.
Memberi pengetahuan dasar kepada mahasiswa agar mereka mampu berfikir secara interdisipliner dan mampu memahami pemikiran dari para ahli berbagai disiplin ilmu pengetahuan sehingga dengan demikian memudahkan mereka berkomunikasi.
Jadi pendidikan dasar umum yang menitik beratkan pada usaha untuk mengembangkan kepribadian mahasiswa pada dasarnya berbeda dengan mata kuliah bantu yang bertujuan untuk menopang keahlian mahasiswa dalam disiplin ilmunya, demikian pula berbeda dengan pendidikan keahlian yang bertujuan untuk mengembangkan keahlian mahasiswa dalam bidang/disiplin ilmunya.
Pendidikan dasar umum yang diselenggarakan pada perguruan tinggi, yang kemudian terkenal dengan nama mata kuliah dasar umum (MKDU) dikelompokkan menjadi dua bagian, pada kelompok pertama diharapkan dapat memberikan dasar pedoman-pedoman untuk bertindak/berprilaku sebagai warga negara yang terpelajar, yang meliputi mata kuliah:
Agama
Pancasila
Kewiraan
Ketiga mata kuliah kelompok pertama tersebut merupakan mata kuliah intra-kulikuler yang diwajibkan kepada semua mahasiswa yang dinilai dan ikut menentukan kenaikan tingkat jenjang pendidikan disamping ujian-ujian mata kuliah yang lain.
Pada kelompok kedua diharapkan dapat membantu kepekaan mahasiswa berkenalan dengan lingkungan social, budaya, dan lingkungan alamiah, yang meliputi mata kuliah:
Ilmu Sosial Dasar (ISD)
Ilmu Alamiah Dasar (IAD)
Ilmu Budaya Dasar (IBD)
Ketiga mata kuliah dasar tersebut, diwajibkan untuk diikuti bagi semua mahasiswa dengan ketentuan bahwa mahasiswa bidang pengetahuan keahlian berada didalam ruang lingkup perhatian salah satu mata kuliah dasar tersebut tidak diwajibkan mengikuti mata kuliah yang bersangkutan.
Desawa ini mata kuliah pada kelompok pertama telah di selenggarakan pada setiap perguruan tinggi sedang pada mata kuliah kelompok kedua ini, belum diselenggarakan secara merata, mata kuliah pada kelompok kedua ini masih dirasakan adanya kelangkaan para pengajarnya dengan keahlian yang khusus di bidang tersebut.
Tujuan dari MKDU adalah menghasilkan warga Negara yang berpredikat sarjana yang berkualifikasi sebagai berikut:
Berjiwa pancasila sehingga segala keputusan serta tindakannya mencerminkan pengalaman nilai-nilai pancasila dan memiliki intregitas kepribadian yang tinggi, yang mendahulukan kepentingan nasional dan kemanusiaan sebagai sarjana Indonesia.
Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, bersikap dan bertindak sesuai dengan ajaran agamanya dan memiliki tenggang rasa terhadap pemeluk agama lain.
Memiliki wawasan komperhensif dan pendekatan integral didalam menyikapi permasalahan kehidupan baik sosial, politik, kebudayaan maupun pertahanan keamanan.
Memiliki wawasan budaya yang luas tentang kehidupan bermasyarakat dan secara bersama-sama maupun berperan serta meningkatkan kualitasnya, maupun lingkungan alamiah dan secara bersama-sama berperan serta pelestariannya.
KOLERASI DAN KOMPARASI ISD TERHADAP ILMU-ILMU SOSIAL DAN IPS
Berbeda dari Ilmu-Ilmu Alam (natural sciences) yang telah lama muncul dan mapan sebagai suatu disiplin ilmu, Ilmu-Ilmu Sosial (social science) masih relatif muda usianya. Meskipun kajian sosial telah lama ada sejak manusia hidup saling berinteraksi dan bermasyarakat, namun sebagai suatu disiplin barulah berkembang pada abad 19. Karenanya hingga saat ini Ilmu-Ilmu Sosial masih mengandung perdebatan mengenai tidak saja dalam pendefinisiannya, tetapi juga ruang lingkup studi yang menjadi rumpunnya. Namun untuk memudahkan uraian ini, setidaknya dengan menggunakan penjelasan jejak historis pembentukan Ilmu-Ilmu Sosial dapat ditarik pemahaman umum mengenai keberadaannya mengingat tulisan ini tidaklah hendak memaparkan perdebatan dalam pengkategorian disiplin ilmu tersebut. Hal ini untuk menyederhanakan kaitan Ilmu Sosial Dasar (Basic Social Science) dengan Ilmu-Ilmu Sosial (Social Science) dan perbandingannya dengan Ilmu Pengetahuan Sosial (Social Studies).
Immanuel Wallerstein, ahli ilmu sosial ternama dari Amerika dalam karyanya Open Social Sciences, Report of the Gulbenkian Commission on the Restructuring of the Social Sciences (1996) mengungkapkan bahwa tiang-tiang fondasi Ilmu-Ilmu Sosial sudah sangat nyata mengkristal pada pertengahan pertama abad ke-19. Dalam periode 1500-1850 sudah terdapat kepustakaan mengenai persoalan-persoalan sentral yang menjadi pembicaraan ilmu sosial. Namun, baru pada periode 1850-1914 muncul dalam struktur disiplin Ilmu-Ilmu Sosial yang resmi diakui berbagai universitas, seperti di Inggris, Perancis, Jerman, Italia, dan Amerika Serikat yang masih menjadi kiblat ilmu sosial sejak abad 19 hingga sekarang ini. Disiplin Ilmu-Ilmu Sosial, terutama menjelang pecahnya Perang Dunia I meliputi hanya lima disiplin yang disepakati namun masih diperdebatkan yakni ilmu sejarah, ilmu ekonomi, sosiologi, ilmu politik, dan antropologi. Sedangkan geografi, psikologi, dan hukum juga masih dalam daftar perselisihan.
Terlepas dari perdebatan tersebut, pemikiran yang muncul pada umumnya dapatlah diketahui, meskipun sulit disatukan pendefinisian, maupun disiplin yang menjadi rumpunnya, setidaknya dapat ditarik kesimpulan bahwa Ilmu-Ilmu Sosial adalah cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia baik perorangan maupun kelompok. Ilmu-Ilmu memperlihatkan ruang lingkup kajiannya pada persoalan kehidupan manusia menyebabkan adanya aktivitas yang mesti dilakukan untuk mengisi dan mewarnai kehidupan yang melingkupi berkelompok atau bermasyarakat di lingkungannya, berupa persoalan interaksi dan relasi, komunikasi, pengaruh kekuasaan, kebutuhan ekonomi, ragam norma dan budaya dan seterusnya sehingga melahirkan disiplin ilmu sosial tersendiri yakni Sosiologi, Komunikasi, Ilmu Politik, Ekonomi, Hukum, Antropologi, dan sebagainya.
Dewasa ini tantangan kehidupan manusia dan masyarakat modern semakin kompleks membutuhkan pemecahan problem melalui Ilmu-Ilmu Sosial. Terlebih lagi dengan adanya globalisasi menuntut perubahan sosial dengan sejumlah dampak positif dan negatif yang harus di antisipasi tidak saja oleh Ilmu-Ilmu Sosial, namun juga Ilmu-Ilmu Alam maaupun Ilmu-Ilmu Kemanusiaan (Humaniora). Karenanya dalam rangka menjawab tantangan yang semakin kompleks tersebut, salah satunya melalui kerjasma keilmuan baik melalui pendekatan interdisiplin dalam bentuk Ilmu Sosial Dasar (Basic Social Science), Ilmu Alamiah Dasar (Basic Natural Science) maupun Ilmu Budaya Dasar (Basic Humanity) dalam pendidikan menengah atau sekolah melalui pendekatan interdisiplin yang disesuaikan secara psikologis bagi penembangan peserta didik dalam bentuk pembelajaran IPA, IPS, dan Bahasa.
Dari persoalan kajian sosial dalam dunia akademik tersebut di atas, maka dapat dipahami bahwa ISD adalah merupakan suatu pengetahuan yang melakukan penelaahan masalah sosial dengan menggunakan konsep-konsep dasar yang berasal dari Ilmu-Ilmu Sosial yakni Sosiologi, Antropologi, Politik, Ekonomi, Sejarah, Psikologi, Hukum, maupun Geografi. Namun demikian ISD bukanlah gabungan dari Ilmu-Ilmu Sosial yang diintegrasikan mengingat masing-masing sehingga ISD juga bukanlah merupakan disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Sederhananya, ISD adalah bersumber pada konsep atau pengetahuan-pengetahuan dasar Ilmu-Ilmu Sosial yang diintegrasi untuk keperluan memahami, menelaah, dan mencari pemecahan masalah-masalah sosial. Dengan demikian ISD akan memberikan dasar-dasar pengetahuan sosial kepada mahasiswa dalam menelaah dan memecahkan permasalahan sosial yang dihadapinya. Di sisi lain, ISD juga bukanlah “Dasar-Dasar Ilmu Sosial” atau Pengantar Ilmu Sosial. Sebab, Pengantar Ilmu Sosial bertugas untuk memahami ilmu sosial ke arah spesialisasi atau keahlian disiplinnya masing-masing (subject oriented). Sedang ISD tidak bersifat sebagai pengantar ke arah suatu bidang disiplin Ilmu-Ilmu Sosial sebagaimana pada mata kuliah Pengantar Ilmu Sosial. ISD hanyalah pendekatan konsep yang diramu dari Ilmu-Ilmu Sosial terhadap permasalahan sosial. Jadi ISD pembahasannya bersifat problem oriented.
Seperti halnya ISD di Perguruan Tinggi, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), yang berasal dari istilah social studies adalah berasal Ilmu-Ilmu Sosial yang disederhanakan untuk tujuan kurikulum pendidikan sesuai di sekolah dasar dan menengah. Ilmu- Ilmu Sosial yang diramu ke dalam IPS disesuaikan dengan tingkat perkembangan peserta didik atau siswa dalam rangka menanamkan pengetahuan dan pengertian (acquiring of knowledge), memperkaya dan mengembangkan kemampuannya (abilities and power), menanamkan sikap (attitude), keterampilan (skill), dan mendidik menjadi warga yang baik (good citizen). Jika dikomparasikan, jelasnya ISD adalah mata kuliah tunggal yang berasal dari Ilmu-Ilmu Sosial di Perguruan Tinggi yang orientasinya adalah pembentukan kepribadian terhadap permasalahan sosial untuk dipecahkan (problem solving), sedangkan IPS adalah mata pelajaran sekolah dasar atau kelompok data mata pelajaran di sekolah menengah yang konsepnya berasal dari Ilmu-Ilmu Sosial yang disederhanakan dan disesuaikan dengan perkembangan siswa dan diarahkan pada pembentukan pengetahuan, sikap dan keterampilan intelektual. IPS memiliki kecenderungan orientasi pada ilmu sosial akademis yakni penelaah sosial untuk memperoleh pengertian tentang manusia dalam hidup bermasyarakat melalui kurikulum yang disederhanakan secara psikologis bagi peserta didik atau siswa. Kesamaan antara ISD dan IPS adalah sama-sama bersumber dari konsep-konsep dasar pada Ilmu-Ilmu Sosial untuk keperluan pendidikan.
KEDUDUKAN ISD SEBAGAI PENDIDIKAN UMUM (GENERAL EDUCATION)
Pendidikan umum diberikan di Perguruan tinggi menurut M. Munandar Soelaeman adalah untuk memperluas cakrawala perhatian dan pengetahuan mahasiswa sebagai golongan intelektual agar tidak terbatas pada bidang keahlian yang menjadi spesialisnya saja. Hal ini penting untuk menjadikan mahasiswa mengasah kepekaan terhadap dinamika perubahan (sence of changes) dan berpikir terbuka (open minded) dan memiliki tanggungjawab (accountailty) dari tugas keilmuannya untuk diabdikan kepada masyarakat. ISD sebagai program pendidikan umum memiliki pokok kajian untuk dasar mengenai relasi manusia dengan lingkungan sosialnya. Sebagaimana tujuan pendidikan umum di perguruan tinggi adalah:
Sebagai usaha membantu perkembangan kepribadian mahasiswa agar mampu berperan sebagai anggota masyarakat, bangsa, dan agama.
Untuk menumbuhkan kepekaan mahasiswa terhadap masalah-masalah dan kenyataan-kenyataan sosial yang timbul di dalam masyarakat.
Memberi pengetahuan dasar kepada mahasiswa agar mampu berfikir secara interdispliner, dan mampu memahami pikiran para ahli berbagai ilmu pengetahuan, sehingga dengan demikian memudahkan komunikasi.
Terkait dengan usaha tersebut, maka kemudian lulusan Perguruan Tinggi harus dituntut memiliki kemampuan baik secara akademik, professional, dan personalnya yaitu:
Kemampuan Akademik: Kemampuan berkomunikasi secara ilmiah, baik lisan maupun tulisan, menguasai peralatan analisis, berfikir logis, kritis, sistematik, dan analitik, mampu mengidentifikasi, merumuskan, dan memecahkan masalah.
Kemampuan Professional: Kemampuan dalam bidang profesi tenaga ahli yang bersangkutan.
Kemampuan Personal: Kemampuan kepribadian, dengan pengetahuan mampu menunjukkan sikap, tingkah laku, dan tindakan yang mencerminkan kepribadian Indonesia, memahami nilai-nilai keagaman, mempunyai kepekaan terhadap berbagai masalah.
ISD adalah salah satu mata kuliah sebagai program Pendidikan umum adalah untuk mengembangkan kemampuan personal tersebut disamping menunjang kemampuan professional (Hartomo dan Arnicun Azis 2001:1) dan akademiknya dalam medan pengabdian di masyarakat. Sehingga dahulu, ISD yang diwajibkan sejak 1971 di Indonesia, kerap disebut Mata Kuliah Dasar (MKDU) ini, kemudian pada tahun 2000 melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 232/U/2000 ISD bersama IBD, IAD, Agama, Pancasila, Kewiraan, masuk dalam kelompok Mata kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK), dan kini berubah lagi menjadi bagian dari Mata Kuliah Berkehidupan Bermasyarakat (MBB) berdasarkan SK Dirjen Dikti No. 44/Dikti/Kep/2006 Tentang Rambu-Rambu Pelaksanaan Kelompok Mata Kuliah Bermasyarakat (MBB) dengan mengintegrasikan ISD bersama IBD menjadi ISBD.
DAFTAR PUSTAKA
Aisyah, dkk. 2019. Ilmu Alamiah Dasar Dalam Prespektif Islam. (Bengkulu: Vanda Marcom).
Dikti. Depdikbud. RI: Keputusan Dirjen. Dikti. Depdikbud. RI. No. 25/Dikti/Kep/1985. tentang penyempurnaan Kurikulum Inti Mata kuliah Dasar Umum (MKDU); pasal 1 (3).
Ibid. hal. 25
Hartono dan Arnicum Aziz. 2008. MKDU: Ilmu Sosial Dasar. (Jakarta: PT. Bumi Aksara, Cet. VII.).
Hidayati, Amalia Pertiwi. 2016. Pengertian dan Ruang Lingkup IAD ISD dan IBD Ilmu Alamia Dasar.
Ms, Wahyu. 1986. Wawasan Ilmu Sosial dasar. (Surabaya: Usaha Nasional).
Ibid. hal. 17-19
Prasetya, Joko Tri. dkk. 1991. Ilmu Budaya Dasar. (Jakarta : PT. Rineka Cipta).
Prasetya. Joko Tri. dkk. 1991. Ilmu Budaya Dasar. (Jakarta : PT. Rineka Cipta).
Ibid. hal. 7
Rahmatullah. 2009. Dimensi Ilmu Sosial Dasar di Perguruan Tinggi (Urgensi bagi Mahasiswa Progam Ilmu Eksakta dan Teknologi).
Ibid. hal. 18
Rubini, Binin. 2017. Ilmu Alamiah Dasar. (Bogor : Unpak Press).
Rubini, Binin. 2017. Ilmu Alamiah Dasar. (Bogor : Unpak Press). Hal. 63.
Suhadad, Idad. 2016. Ilmu Sosial Dasar. (Bandung : PT Remaja Rosdakarya).
Soedarno, P. dkk. 1992. Ilmu Sosial Dasar : Buku Panduan Mahasiswa. (Jakarta; Gramedia Pustaka Utama) Hal. 1
Tumanggor, Rusmin. dkk. 2010. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. (Jakarta : Prenadamedia Group).
Ibid. hal. 7
Ibid. hal. 7
Siti Rukayanti
Sabtu, 02 Mei 2020
Peran IMTAQ dan IPTEK di era globalisasi
IMTAQ dan IPTEK di Era Globalisasi
Teknologi pada masa kini sudah marak-maraknya dan berkembang dengan sangat pesat yang dapat mempengaruhi aktivitas manusia. Seperti dalam hal mencari berita yang ada di luar maupun di dalam negri, dengan adanya kemajuan alat bantu saat ini kita bisa mendapatkan informasi tersebut dengan mengunakan teknologi informasi yang sudah modern saat ini, tanpa kita datang ke tempat tersebut. Sehingga manusia dan teknologi saat ini sudah tidak dapat dipisahkan lagi kaitannya. Mengapa? Karena dengan adanya alat bantu yang modern segala pekerjaan manusia lebih mudah, efesien dan efektif. sehingga tidak mengherankan apabila semakin lama manusia semakin tergantung dengan yang namanya teknologi.
Seperti di era globalisasi saat ini teknologi dalam hal ini media sosial sudah merambah ke berbagai kalangan dari kalangan orang tua hingga anak-anak. Pengertian globalisasi sendiri yaitu proses peningkatan saling ketergantungan masyarakat dunia. Globalisasi ditandai oleh kesenjangan tingkat kehidupan antara masyarakat industri dan masyarakat dunia ketiga seperti orang-orang desa yang kebanyakan bekerja sebagaiburuh tani (yang pernah dijajah Barat dan mayoritas hidup dari pertanian). (Anthony Giddens : 1989)
Media sosial memiliki dampak positif dan negative. Dampak positif dari teknologi yaitu mendekatkan yang jauh, karena dengan adanya teknologi, setiap individu maupun kelompok mendapat kemudahan dalam berkomunikasi, meskipun dengan jarak yang berjauhan. Media sosial merupakan wadah untuk saling berkomunikasi, berbagi pesan dan informasi dari berbagai sumber. Segala informasi dapat kita cari dan bagikan lewat media sosial. Begitu besar peran media sosial dikehidupan saat ini, bahkan kita dapat membagikan pesan-pesan islami dalam media sosial karena sangat efektif dan efesien. Namun, media sosial juga memiliki dampak negative yaitu mengurangi kinerja karyawan, susah bersosialisasi dengan orang sekitar, membuat orang menjaddi individualisme, masuknya budaya barat, ketergantungan teknologi, dll. (https://www.baktikominfo.id diakses tanggal 4 April 2020 pukul 13.10)
Program Studi Manajemen Dakwah dimana mahasiswa akan dicetak sebagai generasi yang faham tentang nilai agama dan dapat berkecimpung dalam ilmu manajemen yang berbasis syari’ah. Membentuk sebuah kepribadian muslim pada diri seorang mahasiswa merupakan hal yang sangat penting di era globalisasi saat ini. Karena era globalisasi saat ini, ternyata tidak semua membawa dampak positif bagi mahasiswa tetapi juga dapat berdampak negative bagi di lingkungan universitas, khususnya Fakultas Dakwah dan Komunikasi di Program Studi Manajemen Dakwah.
Penelitian ini bertujuan untuk mengukur kadar seberapa besar mahasiswa MD dalam penerapan IMTAQ dalam penggunaan media sosial. Disini penulis akan melakukan penelitian terhadap kadar mahasiswa manajemen dakwah dalam memposting pesan islami di media sosial. Manajemen dakwah diharapkan bisa menjadi kader yang memiliki pemahaman tentang agama secara mendalam serta dapat menerapkan ilmu agama dalam bermedia sosial. Namun pada kenyataannya, penulis belum dapat menemukan adanya mahasiswa MD yang dapat memanfaatkan media sosial sebagai tempat untuk menyebarkan pesan islami secara maksimal.
Teknologi pada masa kini sudah marak-maraknya dan berkembang dengan sangat pesat yang dapat mempengaruhi aktivitas manusia. Seperti dalam hal mencari berita yang ada di luar maupun di dalam negri, dengan adanya kemajuan alat bantu saat ini kita bisa mendapatkan informasi tersebut dengan mengunakan teknologi informasi yang sudah modern saat ini, tanpa kita datang ke tempat tersebut. Sehingga manusia dan teknologi saat ini sudah tidak dapat dipisahkan lagi kaitannya. Mengapa? Karena dengan adanya alat bantu yang modern segala pekerjaan manusia lebih mudah, efesien dan efektif. sehingga tidak mengherankan apabila semakin lama manusia semakin tergantung dengan yang namanya teknologi.
Seperti di era globalisasi saat ini teknologi dalam hal ini media sosial sudah merambah ke berbagai kalangan dari kalangan orang tua hingga anak-anak. Pengertian globalisasi sendiri yaitu proses peningkatan saling ketergantungan masyarakat dunia. Globalisasi ditandai oleh kesenjangan tingkat kehidupan antara masyarakat industri dan masyarakat dunia ketiga seperti orang-orang desa yang kebanyakan bekerja sebagaiburuh tani (yang pernah dijajah Barat dan mayoritas hidup dari pertanian). (Anthony Giddens : 1989)
Media sosial memiliki dampak positif dan negative. Dampak positif dari teknologi yaitu mendekatkan yang jauh, karena dengan adanya teknologi, setiap individu maupun kelompok mendapat kemudahan dalam berkomunikasi, meskipun dengan jarak yang berjauhan. Media sosial merupakan wadah untuk saling berkomunikasi, berbagi pesan dan informasi dari berbagai sumber. Segala informasi dapat kita cari dan bagikan lewat media sosial. Begitu besar peran media sosial dikehidupan saat ini, bahkan kita dapat membagikan pesan-pesan islami dalam media sosial karena sangat efektif dan efesien. Namun, media sosial juga memiliki dampak negative yaitu mengurangi kinerja karyawan, susah bersosialisasi dengan orang sekitar, membuat orang menjaddi individualisme, masuknya budaya barat, ketergantungan teknologi, dll. (https://www.baktikominfo.id diakses tanggal 4 April 2020 pukul 13.10)
Program Studi Manajemen Dakwah dimana mahasiswa akan dicetak sebagai generasi yang faham tentang nilai agama dan dapat berkecimpung dalam ilmu manajemen yang berbasis syari’ah. Membentuk sebuah kepribadian muslim pada diri seorang mahasiswa merupakan hal yang sangat penting di era globalisasi saat ini. Karena era globalisasi saat ini, ternyata tidak semua membawa dampak positif bagi mahasiswa tetapi juga dapat berdampak negative bagi di lingkungan universitas, khususnya Fakultas Dakwah dan Komunikasi di Program Studi Manajemen Dakwah.
Penelitian ini bertujuan untuk mengukur kadar seberapa besar mahasiswa MD dalam penerapan IMTAQ dalam penggunaan media sosial. Disini penulis akan melakukan penelitian terhadap kadar mahasiswa manajemen dakwah dalam memposting pesan islami di media sosial. Manajemen dakwah diharapkan bisa menjadi kader yang memiliki pemahaman tentang agama secara mendalam serta dapat menerapkan ilmu agama dalam bermedia sosial. Namun pada kenyataannya, penulis belum dapat menemukan adanya mahasiswa MD yang dapat memanfaatkan media sosial sebagai tempat untuk menyebarkan pesan islami secara maksimal.
Rabu, 06 April 2016
sejarah gusdur
Biografi Kyai Haji Abdurrahman Wahid (Gud Dur)
Wink
Biodata,
Biografi,
Biografi Indonesia,
Biografi Tokoh,
Pahlawan Nasional,
Profil,
Tokoh Dunia,
Tokoh Pemimpin
Advertisement
Biografi Kyai Haji Abdurrahman Wahid (Gud Dur). Mantan
Presiden Keempat Indonesia ini lahir di Jombang, Jawa Timur, 7
September 1940 dari pasangan Wahid Hasyim dan Solichah. Guru bangsa,
reformis, cendekiawan, pemikir, dan pemimpin politik ini menggantikan BJ
Habibie sebagai Presiden RI setelah dipilih MPR hasil Pemilu 1999. Dia
menjabat Presiden RI dari 20 Oktober 1999 hingga Sidang Istimewa MPR
2001. Ia lahir dengan nama Abdurrahman Addakhil atau "Sang Penakluk",
dan kemudian lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. "Gus" adalah
panggilan kehormatan khas pesantren kepada anak kiai.Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara, dari keluarga yang sangat terhormat dalam komunitas muslim Jawa Timur. Kakek dari ayahnya, KH. Hasyim Asyari, adalah pendiri Nahdlatul Ulama (NU), sementara kakek dari pihak ibu, KH Bisri Syansuri, adalah pengajar pesantren. Ayah Gus Dur, KH Wahid Hasyim, terlibat dalam Gerakan Nasionalis dan menjadi Menteri Agama pada 1949. Ibunya, Hj. Sholehah, adalah putri pendiri Pondok Pesantren Denanyar Jombang. Setelah deklarasi kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, Gus Dur kembali ke Jombang dan tetap berada di sana selama perang kemerdekaan Indonesia melawan Belanda. Akhir 1949, dia pindah ke Jakarta setelah ayahnya ditunjuk sebagai Menteri Agama. Dia belajar di Jakarta, masuk ke SD KRIS sebelum pindah ke SD Matraman Perwari.
Gus Dur juga diajarkan membaca buku non Islam, majalah, dan koran oleh ayahnya untuk memperluas pengetahuannya. Pada April 1953, ayahnya meninggal dunia akibat kecelakaan mobil. Pendidikannya berlanjut pada 1954 di Sekolah Menengah Pertama dan tidak naik kelas, tetapi bukan karena persoalan intelektual. Ibunya lalu mengirimnya ke Yogyakarta untuk meneruskan pendidikan. Pada 1957, setelah lulus SMP, dia pindah ke Magelang untuk belajar di Pesantren Tegalrejo. Ia mengembangkan reputasi sebagai murid berbakat, menyelesaikan pendidikan pesantren dalam waktu dua tahun (seharusnya empat tahun).
Pada 1959, Gus Dur pindah ke Pesantren Tambakberas di Jombang dan mendapatkan pekerjaan pertamanya sebagai guru dan kepala madrasah. Gus Dur juga menjadi wartawan Horizon dan Majalah Budaya Jaya. Pada 1963, Wahid menerima beasiswa dari Departemen Agama untuk belajar di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir, namun tidak menyelesaikannya karena kekritisan pikirannya. Gus Dur lalu belajar di Universitas Baghdad. Meskipun awalnya lalai, Gus Dur bisa menyelesaikan pendidikannya di Universitas Baghdad tahun 1970.
Dia pergi ke Belanda untuk meneruskan pendidikannya, guna belajar di Universitas Leiden, tetapi kecewa karena pendidikannya di Baghdad kurang diakui di sini. Gus Dur lalu pergi ke Jerman dan Prancis sebelum kembali ke Indonesia pada 1971. Gus Dur kembali ke Jakarta dan bergabung dengan Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), organisasi yg terdiri dari kaum intelektual muslim progresif dan sosial demokrat.
LP3ES mendirikan majalah Prisma di mana Gus Dur menjadi salah satu kontributor utamanya dan sering berkeliling pesantren dan madrasah di seluruh Jawa. Saat inilah dia memprihatinkan kondisi pesantren karena nilai-nilai tradisional pesantren semakin luntur akibat perubahan dan kemiskinan pesantren yang ia lihat. Dia kemudian batal belajar luar negeri dan lebih memilih mengembangkan pesantren. Abdurrahman Wahid meneruskan karirnya sebagai jurnalis, menulis untuk Tempo dan Kompas. Artikelnya diterima baik dan mulai mengembangkan reputasi sebagai komentator sosial.
Dengan popularitas itu, ia mendapatkan banyak undangan untuk memberikan kuliah dan seminar, sehingga dia harus pulang-pergi Jakarta dan Jombang. Pada 1974, Gus Dur mendapat pekerjaan tambahan di Jombang sebagai guru di Pesantren Tambakberas. Satu tahun kemudian, Gus Dur menambah pekerjaannya dengan menjadi Guru Kitab Al Hikam. Pada 1977, dia bergabung di Universitas Hasyim Asyari sebagai dekan Fakultas Praktik dan Kepercayaan Islam, dengan mengajar subyek tambahan seperti pedagogi, syariat Islam dan misiologi. Ia lalu diminta berperan aktif menjalankan NU dan ditolaknya. Namun, Gus Dur akhirnya menerima setelah kakeknya, Bisri Syansuri, membujuknya. Karena mengambil pekerjaan ini, Gus Dur juga memilih pindah dari Jombang ke Jakarta.
Abdurrahman Wahid mendapat pengalaman politik pertamanya pada pemilihan umum legislatif 1982, saat berkampanye untuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP), gabungan empat partai Islam termasuk NU.
Reformasi NU
NU membentuk Tim Tujuh (termasuk Gus Dur) untuk mengerjakan isu reformasi dan membantu menghidupkan kembali NU. Pada 2 Mei 1982, para pejabat tinggi NU bertemu dengan Ketua NU Idham Chalid dan memintanya mengundurkan diri. Namun, pada 6 Mei 1982, Gus Dur menyebut pilihan Idham untuk mundur tidak konstitusionil. Gus Dur mengimbau Idham tidak mundur. Pada 1983, Soeharto dipilih kembali sebagai presiden untuk masa jabatan keempat oleh MPR dan mulai mengambil langkah menjadikan Pancasila sebagai ideologi negara. Dari Juni 1983 hingga Oktober 1983, Gus Dur menjadi bagian dari kelompok yang ditugaskan untuk menyiapkan respon NU terhadap isu ini.
Gus Dur lalu menyimpulkan NU harus menerima Pancasila sebagai Ideologi Negara. Untuk lebih menghidupkan kembali NU, dia mengundurkan diri dari PPP dan partai politik agar NU fokus pada masalah sosial. Pada Musyawarah Nasional NU 1984, Gus Dur dinominasikan sebagai ketua PBNU dan dia menerimanya dengan syarat mendapat wewenang penuh untuk memilih pengurus yang akan bekerja di bawahnya.
Terpilihnya Gus Dur dilihat positif oleh Suharto. Penerimaan Wahid terhadap Pancasila bersamaan dengan citra moderatnya menjadikannya disukai pemerintah. Pada 1987, dia mempertahankan dukungan kepada rezim tersebut dengan mengkritik PPP dalam pemilihan umum legislatif 1987 dan memperkuat Partai Golkar. Ia menjadi anggota MPR dari Golkar. Meskipun disukai rezim, Gus Dur acap mengkritik pemerintah, diantaranya proyek Waduk Kedung Ombo yang didanai Bank Dunia. Ini merenggangkan hubungannya dengan pemerintah dan Suharto.
Selama masa jabatan pertamanya, Gus Dur fokus mereformasi sistem pendidikan pesantren dan berhasil meningkatkan kualitas sistem pendidikan pesantren sehingga menandingi sekolah sekular. Gus Dur terpilih kembali untuk masa jabatan kedua Ketua PBNU pada Musyawarah Nasional 1989. Saat itu, Soeharto, yang terlibat dalam pertempuran politik dengan ABRI, berusaha menarik simpati Muslim.
Pada Desember 1990, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dibentuk untuk menarik hati intelektual muslim di bawah dukungan Soeharto dan diketuai BJ Habibie. Pada 1991, beberapa anggota ICMI meminta Gus Dur bergabung, tapi ditolaknya karena dianggap sektarian dan hanya membuat Soeharto kian kuat. Bahkan pada 1991, Gus Dur melawan ICMI dengan membentuk Forum Demokrasi, organisasi terdiri dari 45 intelektual dari berbagai komunitas religius dan sosial. Pada Maret 1992, Gus Dur berencana mengadakan Musyawarah Besar untuk merayakan ulang tahun NU ke-66 dan merencanakan acara itu dihadiri paling sedikit satu juta anggota NU.
Soeharto menghalangi acara tersebut dengan memerintahkan polisi mengusir bus berisi anggota NU begitu tiba di Jakarta. Gus Dur mengirim surat protes kepada Soeharto menyatakan bahwa NU tidak diberi kesempatan menampilkan Islam yang terbuka, adil dan toleran. Menjelang Musyawarah Nasional 1994, Gus Dur menominasikan diri untuk masa jabatan ketiga. Kali ini Soeharto menentangnya. Para pendukung Soeharto, seperti Habibie dan Harmoko, berkampanye melawan terpilihnya kembali Gus Dur.
Ketika musyawarah
Advertisement
Pada November 1996, Gus Dur dan Soeharto bertemu pertama kalinya sejak pemilihan kembali Gus Dur sebagai ketua NU. Desember tahun itu juga dia bertemu dengan Amien Rais, anggota ICMI yang kritis terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah. Juli 1997 merupakan awal krisis moneter dimana Soeharto mulai kehilangan kendali atas situasi itu. Gus Dur didorong melakukan gerakan reformasi dengan Megawati dan Amien, namun terkena stroke pada Januari 1998. Pada 19 Mei 1998, Gus Dur, bersama delapan pemimpin komunitas Muslim, dipanggil Soeharto yang memberikan konsep Komite Reformasi usulannya. Gus Dur dan delapan orang itu menolak bergabung dengan Komite Reformasi.
Amien, yang merupakan oposisi Soeharto paling kritis saat itu, tidak menyukai pandangan moderat Gus Dur terhadap Soeharto. Namun, Soeharto kemudian mundur pada 21 Mei 1998. Wakil Presiden Habibie menjadi presiden menggantikan Soeharto. Salah satu dampak jatuhnya Soeharto adalah lahirnya partai politik baru, dan pada Juni 1998, komunitas NU meminta Gus Dur membentuk partai politik baru. Baru pada Juli 1998 Gus Dur menanggapi ide itu karena mendirikan partai politik adalah satu-satunya cara untuk melawan Golkar dalam pemilihan umum. Partai itu adalah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Pada 7 Februari 1999, PKB resmi menyatakan Gus Dur sebagai kandidat presidennya.
Pemilu April 1999, PKB memenangkan 12% suara dengan PDIP memenangkan 33% suara. Pada 20 Oktober 1999, MPR kembali mulai memilih presiden baru. Abdurrahman Wahid terpilih sebagai Presiden Indonesia ke-4 dengan 373 suara, sedangkan Megawati hanya 313 suara. Semasa pemerintahannya, Gus Dur membubarkan Departemen Penerangan dan Departemen Sosial serta menjadi pemimpin pertama yang memberikan Aceh referendum untuk menentukan otonomi dan bukan kemerdekaan seperti di Timor Timur. Pada 30 Desember 1999, Gus Dur mengunjungi Jayapura dan berhasil meyakinkan pemimpin-pemimpin Papua bahwa ia mendorong penggunaan nama Papua.
Pada Maret 2000, pemerintahan Gus Dur mulai bernegosiasi dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Dua bulan kemudian, pemerintah menandatangani nota kesepahaman dengan GAM. Gus Dur juga mengusulkan agar TAP MPRS No. XXIX/MPR/1966 yang melarang Marxisme-Leninisme dicabut. Ia juga berusaha membuka hubungan diplomatik dengan Israel, sementara dia juga menjadi tokoh pertama yang mereformasi militer dan mengeluarkan militer dari ruang sosial-politik. Muncul dua skandal pada tahun 2000, yaitu skandal Buloggate dan Bruneigate, yang kemudian menjatuhkannya.
Pada Januari 2001, Gus Dur mengumumkan bahwa Tahun Baru Cina (Imlek) menjadi hari libur opsional. Tindakan ini diikuti dengan pencabutan larangan penggunaan huruf Tionghoa. Pada 23 Juli 2001, MPR secara resmi memakzulkan Gus Dur dan menggantikannya dengan Megawati Soekarnoputri. Pada Pemilu April 2004, PKB memperoleh 10.6% suara dan memilih Wahid sebagai calon presiden. Namun, Gus Dur gagal melewati pemeriksaan medis dan KPU menolak memasukannya sebagai kandidat. Gus Dur lalu mendukung Solahuddin yang merupakan pasangan Wiranto. Pada 5 Juli 2004, Wiranto dan Solahuddin kalah dalam pemilu. Di Pilpres putaran dua antara pasangan Yudhoyono-Kalla dengan Megawati-Muzadi, Gus Dur golput.
Agustus 2005, Gus Dur, dalam Koalisi Nusantara Bangkit Bersatu bersama Try Sutrisno, Wiranto, Akbar Tanjung dan Megawati mengkritik kebijakan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, terutama dalam soal pencabutan subsidi BBM.
Kehidupan pribadi
Gus Dur menikah dengan Sinta Nuriyah dan dikaruniai empat orang anak: Alissa Qotrunnada, Zanubba Ariffah Chafsoh (Yenny), Anita Hayatunnufus, dan Inayah Wulandari. Yenny aktif berpolitik di PKB dan saat ini adalah Direktur The Wahid Institute.
Gus Dur wafat, hari Rabu, 30 Desember 2009, di Rumah Sakit Cipto Mangunkosumo, Jakarta, pukul 18.45 akibat berbagai komplikasi penyakit, diantarnya jantung dan gangguan ginjal yang dideritanya sejak lama. Sebelum wafat dia harus menjalani cuci darah rutin. Seminggu sebelum dipindahkan ke Jakarta ia sempat dirawat di Surabaya usai mengadakan perjalanan di Jawa Timur.
Penghargaan Gusdur
Pada 1993, Gus Dur menerima Ramon Magsaysay Award, penghargaan cukup prestisius untuk kategori kepemimpinan sosial. Dia ditahbiskan sebagai "Bapak Tionghoa" oleh beberapa tokoh Tionghoa Semarang di Kelenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok, pada 10 Maret 2004. Pada 11 Agustus 2006, Gadis Arivia dan Gus Dur mendapatkan Tasrif Award-AJI sebagai Pejuang Kebebasan Pers 2006. Gus Dur dan Gadis dinilai memiliki semangat, visi, dan komitmen dalam memperjuangkan kebebasan berekpresi, persamaan hak, semangat keberagaman, dan demokrasi di Indonesia.
Ia mendapat penghargaan dari Simon Wiethemthal Center, sebuah yayasan yang bergerak di bidang penegakan HAM karena dianggap sebagai salah satu tokoh yang peduli persoalan HAM. Gus Dur memperoleh penghargaan dari Mebal Valor yang berkantor di Los Angeles karena Wahid dinilai memiliki keberanian membela kaum minoritas. Dia juga memperoleh penghargaan dari Universitas Temple dan namanya diabadikan sebagai nama kelompok studi Abdurrahman Wahid Chair of Islamic Study.
Gus Dur memperoleh banyak gelar Doktor Kehormatan (Doktor Honoris Causa) dari berbagai lebaga pendidikan, yaitu:
- Doktor Kehormatan bidang Kemanusiaan dari Netanya University, Israel (2003)
- Doktor Kehormatan bidang Hukum dari Konkuk University, Seoul, Korea Selatan (2003)
- Doktor Kehormatan dari Sun Moon University, Seoul, Korea Selatan (2003)
- Doktor Kehormatan dari Soka Gakkai University, Tokyo, Jepang (2002)
- Doktor Kehormatan bidang Filsafat Hukum dari Thammasat University, Bangkok, Thailand (2000)
- Doktor Kehormatan dari Asian Institute of Technology, Bangkok, Thailand (2000)
- Doktor Kehormatan bidang Ilmu Hukum dan Politik, Ilmu Ekonomi dan Manajemen, dan Ilmu Humaniora dari Pantheon Sorborne University, Paris, Perancis (2000)
- Doktor Kehormatan dari Chulalongkorn University, Bangkok, Thailand (2000)
- Doktor Kehormatan dari Twente University, Belanda (2000)
- Doktor Kehormatan dari Jawaharlal Nehru University, India (2000)
kisah bilal bin robah
Kisah Bilal Bin Rabah Yang Merindukan Rasulullah SAW
Bilal menjadi muazin tetap selama Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam hidup. Selama itu pula, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sangat menyukai suara yang saat disiksa dengan siksaan yang begitu berat di masa lalu, ia melantunkan kata, “Ahad…, Ahad… (Allah Maha Esa).”
Sesaat setelah Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam mengembuskan napas terakhir, waktu shalat tiba. Bilal berdiri untuk mengumandangkan azan, sementara jasad Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam masih terbungkus kain kafan dan belum dikebumikan. Saat Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi” (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah), tiba-tiba suaranya terhenti. Ia tidak sanggup mengangkat suaranya lagi. Kaum muslimin yang hadir di sana tak kuasa menahan tangis, maka meledaklah suara isak tangis yang membuat suasana semakin mengharu biru.
Sejak kepergian Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam, Bilal tak sanggup mengumandangkan azan. Setiap sampai kepada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi” (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah), ia langsung menangis tersedu-sedu. Begitu pula kaum muslimin yang mendengarnya, larut dalam tangisan pilu.
Karena itu, Bilal memohon kepada Abu Bakar, yang menggantikan posisi Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam sebagai pemimpin, agar diperkenankan tidak mengumandangkan azan lagi, karena tidak sanggup melakukannya. Selain itu, Bilal juga meminta izin kepadanya untuk keluar dari kota Madinah dengan alasan berjihad di jalan Allah dan ikut berperang ke wilayah Syam.
Awalnya, ash-Shiddiq merasa ragu untuk mengabulkan permohonan Bilal sekaligus mengizinkannya keluar dari kota Madinah, namun Bilal mendesaknya seraya berkata, “Jika dulu engkau membeliku untuk kepentingan dirimu sendiri, maka engkau berhak menahanku, tapi jika engkau telah memerdekakanku karena Allah, maka biarkanlah aku bebas menuju kepada-Nya.”
Abu Bakar menjawab, “Demi Allah, aku benar-benar membelimu untuk Allah, dan aku memerdekakanmu juga karena Allah.”
Bilal menyahut, “Kalau begitu, aku tidak akan pernah mengumandangkan azan untuk siapa pun setelah Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam wafat.”
Abu Bakar menjawab, “Baiklah, aku mengabulkannya.” Bilal pergi meninggalkan Madinah bersama pasukan pertama yang dikirim oleh Abu Bakar. Ia tinggal di daerah Darayya yang terletak tidak jauh dari kota Damaskus.
Lama Bilal tak mengunjungi Madinah, sampai pada suatu malam, Nabi hadir dalam mimpi Bilal, dan menegurnya, “Ya Bilal, wa maa hadzal jafa’? Hai Bilal, kenapa engkau tak mengunjungiku? Kenapa sampai begini?”
Bilal pun bangun terperanjat, airmata rindunya seketika tak terbendung lagi. Segera dia mempersiapkan perjalanan ke Madinah, untuk ziarah pada Nabi. Sekian tahun sudah dia meninggalkan Nabi.
Setiba di Madinah, Bilal bersedu sedan melepas rasa rindunya pada Nabi, pada sang kekasih. Penduduk Madinah yang mengetahui kedatangannya, segera keluar dari rumah untuk menyambutnya. Ketika masuk waktunya sholat, beberapa Sahabat meminta Bilal untuk mengumandangkan adzan. Akan tetapi Bilal terus menolak permintaan itu.
Saat itu, dua pemuda yang telah beranjak dewasa, mendekatinya. Keduanya adalah cucunda Nabi, Hasan dan Husein. Kali ini mereka berdua yang meminta Bilal untuk mengumandangkan adzan, “Paman, maukah engkau sekali saja mengumandangkan adzan buat kami? Kami ingin mengenang kakek kami.”
Sembari mata sembab oleh tangis, Bilal yang kian beranjak tua memeluk kedua cucu Nabi itu. “wahai cahaya mataku, wahai dua orang yang sangat dicintai Rasul, sesungguhnya wajib bagiku untuk memenuhi keinginan kalian. Sesungguhnya apabila semua penduduk bumi memintaku mengumandangkan adzan, aku tetap tak akan mau melalukannya. Akan tetapi, setiap permintaan kalian berdua, adalah keharusan bagiku untuk melaksanakannya.”
Ketika itu, Umar bin Khattab yang telah jadi Khalifah juga sedang melihat pemandangan mengharukan itu, dan beliau juga memohon Bilal untuk mengumandangkan adzan, meski sekali saja.
Bilal pun memenuhi permintaan itu. Saat waktu shalat, dia naik pada tempat dahulu biasa dia adzan pada era Nabi. Mulailah dia mengumandangkan adzan.
Saat lafadz “Allahu Akbar” dikumandangkan olehnya, mendadak seluruh Madinah senyap, segala aktifitas terhenti, semua terkejut, suara yang telah bertahun-tahun hilang, suara yang mengingatkan pada sosok nan agung, suara yang begitu dirindukan, itu telah kembali.
Ketika Bilal meneriakkan kata “Asyhadu an laa ilaha illallah”, seluruh isi kota madinah berlarian ke arah suara itu sembari berteriak, bahkan para gadis dalam pingitan mereka pun keluar.
Dan saat Bilal mengumandangkan “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah”, Madinah pecah oleh tangisan dan ratapan yang sangat memilukan. Semua menangis, teringat masa-masa indah bersama Nabi. Umar bin Khattab yang paling keras tangisnya. Bahkan Bilal sendiri pun tak sanggup meneruskan adzannya. Lidahnya tercekat oleh air mata yang berderai. Setelah itu ia jatuh pingsan bersama banyak orang yang lain karena kerinduan mereka akan sosok Rasulullah SAW.
Hari itu, madinah mengenang masa saat masih ada Nabi. Tak ada pribadi agung yang begitu dicintai seperti Nabi. Dan tidak pernah disaksikan hari yang lebih banyak laki-laki dan wanita menangis daripada hari itu
Dan adzan itu, adzan yang tak bisa dirampungkan itu, adalah adzan pertama Bilal sekaligus adzan terakhirnya semenjak Nabi wafat. Dia tak pernah bersedia lagi mengumandangkan adzan. Sebab kesedihan yang sangat segera mencabik-cabik hatinya mengenang seseorang yang karenanya dirinya derajatnya terangkat begitu tinggi.
Beberapa hari kemudian Bilal bin Rabah jatuh sakit. Saat menjelang kematiannya, istri Bilal menunggu di sampingnya dengan setia seraya berkata, “Oh, betapa sedihnya hati ini….”
Tapi, setiap istrinya berkata seperti itu, Bilal membuka matanya dan membalas, “Oh, betapa bahagianya hati ini…. ” Lalu, sambil mengembuskan napas terakhirnya, Bilal berkata lirih,
“Esok kita bersua dengan orang-orang terkasih…
Muhammad dan sahabat-sahabatnya
Esok kita bersua dengan orang-orang terkasih…
Muhammad dan sahabat-sahabatnya” —
Langganan:
Postingan (Atom)

